Kamis, 20 Oktober 2011

Beras Impor Hanya Masuk Gudang Bulog



Sumenep, Memo|
Penurunan harga beras yang terjadi beberapa hari terakhir di Kota Tegal dan sekitarnya diperkirakan bukan karena dampak masuknya beras impor. Penyebabnya, beras impor hanya masuk ke gudang Bulog untuk cadangan beras miskin, dan tidak masuk ke pasar-pasar.  

Fasika Khaerul Zaman, Kepala Bulog Subdivre VI Pekalongan, Kamis (20/10/2011), mengatakan, beras impor juga masuk ke gudang Bulog Subdivre VI Pekalongan pada September lalu. Namun jumlahnya hanya sekitar 5.500 ton atau hanya separuh dari kebutuhan alokasi penyaluran beras untuk rakyat miskin (raskin) di wilayah eks Karesidenan Pekalongan.
Alokasi penyaluran raskin untuk wilayah eks Karesidenan Pekalongan meliputi Kabupaten Brebes, Tegal, Pemalang, Pekalongan, Batang, serta Kota Tegal dan Kota Pekalongan mencapai 9.806 ton per bulan.
Hingga saat ini, Bulog Subdivre VI Pekalongan masih terus menyerap gabah dan beras dari petani yang masih panen. Cadangan beras di gudang Bulog Subdivre VI Pekalongan sekitar 21.000 ton.
Cadangan itu cukup untuk memenuhi kebutuhan penyaluran raskin bulan Desember, yang akan dilaksanakan pada November, serta penyaluran alokasi raskin ke-13, yang rencananya dilaksanakan pada awal Desember. Untuk bulan November, alokasi raskin sudah disalurkan pada Oktober ini.
Ia memperkirakan, penurunan harga beras juga dipengaruhi optimisme masyarakat yang melihat hujan sudah mulai turun dalam beberapa waktu terakhir. Dengan demikian, mereka berpikir musim tanam akan tepat waktu sehingga pedagang yang memiliki banyak persediaan memilih melepas persediaan beras mereka.
Harga beras dalam empat hari terakhir di wilayah Tegal turun sekitar Rp 400 per kilogram. Menurut Mahrudi (34), pedagang beras di Pasar Induk Beras Martoloyo, Kota Tegal, saat ini harga beras C4 kualitas pertama Rp 6.600 hingga Rp 6.700 per kilogram, sedangkan beras C4 kualitas dua sekitar Rp 6.400 per kilogram.
Padahal sebelumnya, harga beras C4 kualitas pertama di tingkat pedagang pasar induk antara Rp 7.000 dan Rp 7.100 per kilogram, sedangkan harga beras C4 kualitas kedua Rp 6.800 per kilogram.
Harga beras di tingkat penggilingan padi juga turun. Sebelumnya, harga beras C4 kualitas pertama di tingkat penggilingan padi antara Rp 6.900 dan Rp 7.000 per kilogram, sementara saat ini Rp 6.500 hingga Rp 6.600 per kilogram.  
Ia menduga, penurunan harga beras sebagai dampak psikologis masuknya beras impor ke Indonesia. Hal itu juga terjadi karena menurunnya permintaan dari luar Jawa dan Jakarta. "Pengiriman beras ke luar Jawa berkurang karena terkendala gelombang tinggi di laut," katanya.

Sumber: http://regional.kompas.com

Ayat yang Paling Ditakuti oleh Para Ulama


Ayat yang Paling Ditakuti oleh Para Ulama

oleh Hartono Ahmad Jaiz
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. يَا أَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا. يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.
أَمَّا بَعْدُ؛ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.
Jama’ah Jum’ah rahimakumullah, marilah kita bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah berkenan memberikan berbagai keni’matan bahkan hidayah kepada kita.
Shalawat dan salam semoga Allah tetapkan untuk Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarganya, para sahabatnya, dan para pengikutnya yang setia dengan baik sampai akhir zaman.
Jama’ah Jum’ah rahimakumullah, mari kita senantiasa bertaqwa kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa, menjalani perintah-perintah Allah sekuat kemampuan kita, dan menjauhi larangan-laranganNya.
Jama’ah Jum’ah rahimakumullah, dalam kesempatan yang mulia ini akan kami kemukakan tentang ayat yang paling ditakuti oleh Ulama. Marilah kita perhatikan betapa hancurnya keadaan ketika tumbuh subur orang-orang yang memusuhi Islam dan akhlaqnya bejat sebagaimana uraian berikut ini.
Betapa kurang ajarnya tingkah pemuda Yahudi Bani Qainuqa' di Madinah di zaman Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Pemuda-pemuda bejat akhlaqnya itu menarik-narik kain seorang perempuan yang sedang berjual beli dengan mereka. Betapa sadisnya kebiadaban Yahudi Bani Nadzir di Madinah yang ingin menjatuhkan batu besar ke diri Rasulullah, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Dan betapa liciknya pengkhianatan Yahudi Bani Quraidhah yang mengingkari perjanjian dengan cara mengadakan permufakatan rahasia dengan kafir Quraisy ketika perang Khandaq, di mana kaum muslimin dipimpin Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berada di dalam parit untuk menghadapi serangan orang kafir.
Bejatnya akhlaq, sadisnya tingkah dan liciknya hati busuk, semuanya telah mewabah pada darah daging mereka orang-orang Yahudi Bani Israel. Dan penyakit akhlaq yang sampai memuncak itu tentunya ada bibit-bibit penyakitnya. Bukan sekadar kuman perusak akhlaq yang ringan, tetapi kuman yang berbahaya. Dan kuman itu tidak hanya sekali datang berlalu, namun sekali datang dan datang lagi, bahkan senantiasa diusahakan datang. Apa itu?"Aklihimus suht". Makanan mereka haram.
Di dalam Al-Quran ditegaskan oleh Allah:
وَتَرَى كَثِيرًا مِنْهُمْ يُسَارِعُونَ فِي الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَأَكْلِهِمُ السُّحْتَ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ [المائدة/62]
“Dan engkau akan melihat kebanyakan dari mereka (orang Yahudi) berlomba-lomba dengan dosa dan permusuhan dan memakan yang haram. Sungguh buruklah apa yang mereka kerjakan”.(Al-Maidah : 62).
Kenapa yang jadi bibit penyakitnya makanan haram? Jelas. Mereka memiliki energi, tenaga untuk berbuat adalah karena makanan. Lantas, mereka berbuat aneka usaha, arahnya adalah mencari makan. Jadi makanan di sini ibarat terminal, tempat berangkat dan sekaligus tempat tujuan. Kalau makanan itu sudah jelas-jelas haram dan itulah yang menjadi pangkal mereka berbuat, maka kebaikan apa yang perlu mereka perjuangkan dengan modal makanan haram itu? Tidak mungkin mereka memburu kebaikan dengan umpan yang dimiliki berupa modal makanan haram.
Maka tidak mungkin pula mereka berhati-hati untuk memperhitungkan mana yang halal dan mana yang haram dalam memburu sasaran yang tak lain adalah makanan pula. Ibarat orang yang memang sudah memakai baju kotor untuk membengkel, mana mungkin ia menghitung-hitung mana tempat yang bersih dan mana yang kotor. Toh tempat yang bersih ataupun kotor sama saja, bahkan lebih perlu menyingkiri tempat yang bersih, karena nanti harus bertugas membersihkan tempat itu kalau kena kotoran dari bajunya.
Singkatnya, dengan modal bekal makanan haram, perbuatannya pun cenderung menempuh jalan haram, dan hasilnya pun barang haram, kemudian dimakanlah hasil yang haram itu untuk bekal berbuat yang haram lagi dan seterusnya.
Moral buruk dan makanan haram
لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ [المائدة/62]
".....Sungguh buruklah apa yang mereka kerjakan!" (QS Al-Maaidah: 62). Ini penegasan Allah SWT.
Perbuatan mereka itu jelas dicap sebagai keburukan. Namun bukan sekadar mandeg/berhenti sampai perbuatan mereka itu saja sirkulasinya. Tidak. Dalam contoh kasus ini, yang berusaha mencari makanan haram tentunya adalah orang tua, penanggung jawab keluarga. Tetapi yang memakan hasilnya, makanan haram, berarti seluruh keluarga yang ditanggung oleh pencari harta haram itu. Dan ternyata, betapa bejatnya akhlaq/moral pemuda-pemuda alias anak-anak mereka yang diberi makan dengan makanan haram itu. Pemuda-pemuda itu sampai begitu lancangnya, menarik-narik kain perempuan di pasar saat berjual beli.
Mungkinkah pemuda-pemuda tersebut sebejat itu kalau mereka ditumbuhkan dengan makanan halal, mereka lihat orang tuanya shaleh, lingkungannya baik-baik dan terjalin ukhuwah/ persaudaraan dengan baik?
Sebaliknya, mungkinkah dengan modal makanan haram itu orang tua menunjukkan "baiknya" perbuatan jahat mereka (yang sudah ketahuan memburu barang haram), menampakkan ketulusan hati (yang sudah ketahuan rakus terhadap barang haram) dan menasihati dengan amalan baik-baik (sedang dirinya jelas melanggar)? Tidak mungkin. Maka tumbuh dengan suburlah generasi penerus mereka itu dengan pupuk-pupuk serba haram dan jahat. Itulah.
Orang alim agama ada yang lebih parah
Sikap seperti itu sungguh parah. Tetapi, masih ada yang lebih parah. Karena yang lebih parah ini bahkan menyangkut orang-orang pandai dan pemuka agama, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala mengecamnya cukup diawali dengan bentuk pertanyaan.
لَوْلَا يَنْهَاهُمُ الرَّبَّانِيُّونَ وَالْأَحْبَارُ عَنْ قَوْلِهِمُ الْإِثْمَ وَأَكْلِهِمُ السُّحْتَ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَصْنَعُونَ [المائدة/63]
“Mengapa orang-orang alim mereka, dan pendeta-pendeta mereka (Yahudi) tidak melarang mereka mengucapkan perkataan dosa dan memakan yang haram? Sesungguhnya amat buruk apa yang telah mereka kerjakan itu.”(Al-Maidah : 63).
Kita dalam hal diamnya para alim dan pemuka agama di kalangan Yahudi itu bisa juga menduga-duga kenapa mereka tidak mencegah perkataan dosa dan makan haram. Dugaan itu akan membuat perasaan bergetar, kalau sampai mereka yang alim dan pemuka agama di kalangan Yahudi itu bahkan antri ikut makan haram.
Maka ayat tersebut, bagi Ibnu Abbas (sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang ahli tafsir Al-Quran) adalah celaan yang paling keras terhadap ulama yang melalaikan tugas mereka dalam menyampaikan da'wah tentang larangan-larangan dan kejahatan-kejahatan. Bahkan Ad-Dhohhaak berkata, tidak ada ayat dalam Al-Quran yang lebih aku takuti daripada ayat ini.
Tidak kurang dari itu, bahkan cercaan Allah itu lebih penting untuk disadari oleh ulama Islam, bukan sekadar cerita cercaan terhadap pendeta-pendeta Yahudi.
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا فَاسْتَغْفِرُوا اللهَ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah Kedua
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. قَالَ تَعَالَى: {وَمَن يَتَّقِ اللهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا} وَقَالَ: {وَمَن يَتَّقِ اللهَ يُكَفِّرْ عَنْهُ سَيِّئَاتِهِ وَيُعْظِمْ لَهُ أَجْرًا}
ثُمَّ اعْلَمُوْا فَإِنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَالسَّلاَمِ عَلَى رَسُوْلِهِ فَقَالَ: {إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا}.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ. اَللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ باَطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.
وَصَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ. وَأَقِمِ الصَّلاَةَ.
Sumber: eramuslim.com

Faktor Penyebab Ghuruur : Menganggap Sebagai Manusia Suci


  • Penyebab Gagalnya Dakwah

Sebagai manusia tentunya tidak ada yang tidak memiliki dosa atau bersifat ma'shum (terpelihara dari dosa). Secara implisit Allah Ta'ala telah menyinggung hal ini lewat firman-Nya:
إِنَّ الَّذِينَ هُم مِّنْ خَشْيَةِ رَبِّهِم مُّشْفِقُونَ ﴿٥٧﴾ وَالَّذِينَ هُم بِآيَاتِ رَبِّهِمْ يُؤْمِنُونَ ﴿٥٨﴾ وَالَّذِينَ هُم بِرَبِّهِمْ لَا يُشْرِكُونَ ﴿٥٩﴾ وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوا وَّقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ ﴿٦٠﴾ أُوْلَئِكَ يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَهُمْ لَهَا سَابِقُونَ ﴿٦١﴾
"Sesungguhnya orang yang berhati-hati karena takut akan (azab) Tuhan mereka, dan orang-orang yang beriman terhadap ayat-ayat Tuhan mereka, dan orang-orang yang tidak mempersekutukan Tuhan mereka (dengan sesuatu apapun), dan orang-orang yang memberi apa yang telah mereka berikan dengan hati yang takut (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka." (QS. Al-Mu'minun [23] : 57-61)
Sayyidah Aisyah ra telah mengangkat pertanyaan tentang maksud ayat diatas kepada Rasulullah saw. 
"Wahai Rasulullah, apakah yang dimaksud dengan ayat Allah yang berbunyi, 'Dan orang-orang yang memberi apa yang telah mereka berikan dengan hati yang takut' adalah mereka yang mencuri, berzina, minum-minuman keras, tetapi mereka takut kepada Allah?" Rasulullah saw menjawab, "Tidak demikian, wahai putri Ash-Shiddiq. Maksudnya ialah orang yang mengerjakan shalat, berpuasa, bersedekah, tetapi ia takut (kalau amalnya tidak diterima) Allah." (HR. Tirmidzi)
Rasulullah shallahu alaihi wassalam menjelaskan bahwa yang harus menjadi sandaran bagi kita atas semua pekerjaan kita adalah fadhilah (keutamaan) Allah dan rahmat-Nya, bukan kepada bentuk amalnya. Sebagai sabda beliau:
"Kamu tidak akan selamat hanya oleh amalanmu belaka". Mendengar hal itu para sahabat bertanya, "Apakah hal demikian berlaku pula pada engkau, wahai Rasulullah?" Rasulullah menjawab, "Ya, akupun demikian, kecuali Allah melingkupiku dengan rahmat-Nya, waktu pagi dan sore hari, dan sebagian dari waktu malam, niscaya engkau akan sampai ke tujuan." (HR. Bukhari dan Muslim)
Abdullah bin Mas'ud ra memberikan penjelasan secara lebih gamblang tentang masalah tersebut tatkala ia menerangkan pengaruh mengingat dosa dan melalaikan kesalahan terhadap sikap seorang Muslim:
"Seorang Mukmin adalah yang melihat dosanya seperti seseorang yang sedang duduk di bawah gunung dan ia takut gunung itu akan runtuh menimpa dirinya. Akan tetapi, orang yang faajir (durhaka) adalah yang melihat dosanya sebesar lalat yang lewat depan hidungnya, kemudian mengatakan, "begini" (maksudnya ia halau dengan tangannya)." (HR. Bukhari)
Cenderung Kepada Dunia
Ada sebagian aktivis yang mengerti bahwa dirinya akan diuji dengan bahaya 'ujub, namun karena dia memiliki sifat cenderung kepda dunia dan tengah terlena dalam kenikmatanny, serta senantiasa mengundur-ngundurkan untuk segera bertobat, akibatnya penyakit 'ujubnya itu terus berkembang lebih fatal lagi menjadi penyakit 'ghuruur'. Faktor yang merangsang sikap seperti itu telah dijelaskan dalam al-Qur'an, yakni akibat dari sikap berlebihan dalam memandang kehidupan dunia. Firman Allah Ta'ala:
اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ ﴿٢٠﴾
"Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah diantara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak. Seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur." (QS. al-Hadiid [57] : 20)
Firman-Nya yang lain:
وَاضْرِبْ لَهُم مَّثَلَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا كَمَاء أَنزَلْنَاهُ مِنَ السَّمَاء فَاخْتَلَطَ بِهِ نَبَاتُ الْأَرْضِ فَأَصْبَحَ هَشِيمًا تَذْرُوهُ الرِّيَاحُ وَكَانَ اللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ مُّقْتَدِرًا ﴿٤٥﴾
"Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia) bahwasanya kehidupan dunia ini bagaikan air hujan yang Kami turunkan dari langit, maka tumbuh-tumbuhan di bumi menjadi subur karenanya, kemudian tumbuh-tumbuh itu menjadi kering dan diterbangkan oleh angin. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu." (QS. al-Kahfi [18] : 45)
Firman-Nya yang lain:
إَنَّ الَّذِينَ لاَ يَرْجُونَ لِقَاءنَا وَرَضُواْ بِالْحَياةِ الدُّنْيَا وَاطْمَأَنُّواْ بِهَا وَالَّذِينَ هُمْ عَنْ آيَاتِنَا غَافِلُونَ ﴿٧﴾ أُوْلَئِكَ مَأْوَاهُمُ النُّارُ بِمَا كَانُواْ يَكْسِبُونَ ﴿٨﴾
"Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan Kami dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu, dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami. Tempat mereka itu ialah neraka, disebabkan apa yang selalu mereka kerjakan." (QS. Yunus [10] : 7-8)
Rasulullah shallahu alaihi wassalam bersabda:
"Celakalah budak dinar, celakalah budak dirham, celakalah budak perut, yaitu orang-orang yang jika diberi ia senang, namun jika tidak diberi ia murka, celakalah, dan terbalik. Jika tergores oleh ujung pedang ia membantah. Beruntunglah seorang hamba yang memegang tali kekang kudanya di jalan Allah, yang kusut rambutnya, berdebu kakinya, namun jika ia bertugas menjaga, ia tetap setia dalam tugasnya, jika ia meminta izin tidak diberi dan jika memohon pertolongan tidak ditolong." (HR. Bukhari)

Hasan al-Basri ra berkata, "Barangsiapa yang menyaingimu dalam masalah agama, maka saingilah dia, namun barangsiapa yang menyaingimu dalam masalah dunia hempaskanlah dunia ke lehernya." (Ihyaa Uluumuddin, al-Gazali). Wallahu'alam.
Sumber: .eramuslim.com
***Selamat datang di blog berita Surat Kabar Harian Pagi MEMORANDUM***

Catatan Yang Ditampilkan

Mobil Toyota Anna Faris

Cari Blog Ini

Copyright @ 2013 Dhalem Temor.