Tegal, Memo– Agus Kowara (46) wartawan Koran Pagi 'Wawasan Semarang' yang
bertugas di wilayah Tegal (Jateng), ditemukan meninggal dunia di rumah
kontrakannya, Sabtu (12/5/2012) siang. Agus tinggal sendirian di rumah
kontrakan di Jalan Cut Nya Dien Slawi, Kabupaten Tegal. Istri dan anaknya
selama ini tinggal di Bandung.
Penemuan mayat Agus berawal ketika tetangganya mencium bau
busuk yang menyengat dari rumah yang ditempati Agus. Kecurigaan warga kemudian
dilaporkan ke aparat setempat. Warga dan aparat kemudian mendatangi rumah itu
dan menemukan Agus sudah membusuk. “Korban diduga sudah meninggal dunia pada
Hari Kamis (10/5/2012),” tutur Joko salah seorang tetangga korban.
Surabaya, Memo -
Apakah Surabaya sudah tak layak lagi menjadi ibukota Provinsi Jawa
Timur? Jika benar, kota manakah yang pantas menggantikan Surabaya?
Jawabannya adalah Sumenep, sebuah kabupaten di ujung timur Pulau Madura.
Setidaknya
itulah yang tersingkap dalam seminar dengan tajuk 'Pemindahan Ibuk ota
Provinsi Jawa Timur : Dari Surabaya ke Sumenep' yang digelar di Gedung
Rektorat Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya, Selasa
(25/1/2011).
Dalam seminar itu dikatakan jika Surabaya tak layak lagi menjadi ibukota
Jatim karena kepadatan penduduk dan kemacetan lalu lintasnya sudah
cukup parah.
Menurut akademisi ITS Surabaya, Daniel M Rosyid,
wacana pemindahan ibukota dilakukan sebagai upaya pemerataan
pembangunan. Ibukota yang ideal, kata Daniel, adalah jika pusat
pemerintahan dan ekonomi tidak terpusat jadi satu seperti yang terjadi
selama ini. Dengan pemindahan ibukota, maka akan terjadi pemerataan
pembangunan di daerah lain di Jatim yang tertinggal jauh dari Surabaya.
"Pemindahan
ibukota Jatim ke Sumenep memang bukan perkara mudah. Tapi tidak ada
salahnya mewacanakan hal tersebut agar lebih mudah jika nantinya
direalisasikan," kata Daniel, di hadapan sekitar 30 audiens di Gedung
Rektorat Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya.
Menanggapi
wacana tersebut, Wakil Bupati Sumenep, Soengkono Sidik, mengatakan
bahwa dirinya mendukung wacana tersebut. Soengkono berharap wacana itu
bisa menjadi kenyataan karena masyarakat Sumenep pasti akan menyambut
baik kebijakan itu.
Soengkono mengatakan potensi Sumenep sudah
lebih dari cukup untuk menjadi sebuah ibukota provinsi. Akses
transportasi darat maupun laut ke Bali, Kalimantan, Sulawesi dan Jawa
sudah tersedia. Masyarakat Sumenep juga cinta damai dan mempunyai
toleransi tinggi.
"Masyarakat Sumenep akan welcome jika ibukota dipindah ke Sumenep," ujar Soengkono.
Namun
pendapat berbeda dilontarkan Hitapriya Suprayitno, dosen jurusan
arsitektur ITS. Hita menilai jika infrastruktur Sumenep belum siap jika
harus menyandang status ibukota provinsi. Wacana pemindahan itu akan
berat dilakukan jika tidak didukung penuh pemerintah daerah dan pusat.
"Infrastruktur
di Sumenep masih harus ditingkatkan lagi. Di sana belum ada bandara
internasional, begitu juga dengan pelabuhan besar. Tapi wacana ini ada
sisi positifnya. Investasi akan banyak masuk ke Madura," kata Hita.
(bdh/bdh)
Sumber: detik.com